Malam tengah berhias di cahaya para bintang.
Yang tebarkan senyum pada bidadari penghuni surga.
Entah apa yang ingin ia sampaikan.
Terkadang bulanpun tersipu malu di balik cadar kabut hitam.
Nyiur melambai.
Menyambut deburan ombak di pantai.
Malampun bernyanyi. Menyaksikan kaki yang tersapu gelombang berpasir. Dalam langkahnya yang goyah. Ia menatap bintang yang masih setia memancarkan pesona untuk sang malam. Dan dia curahkan airmata. Bertanya pada langit yang melindunginya.
” Kau begitu tinggi. Tapi ku tak pernah mendengarmu takut jatuh. Meski tanpa ada tiang. Sementara aku memiliki 2 kaki. Tapi mengapa aku selalu takut untuk mengejar janji Tuhanku. ”
Kemudian dia diam. Kembali mendengarkan senandung malam. Pipinya basah. Karena dia tak berhenti menangis. Kakinyapun masih basah. Tersapu gelombang berpasir. lalu dia berteriak. lemparkan tanya pada lautan berombak.
” Kau tak pernah berhenti berlari. Mengoyak pasir dengan riakmu. Aku tak tahu. Sebenarnya apa yang kau cari. Dan aku hanya di sini menanti takdir. Karena ku hanya takut melihat hidupku berakhir dalam mimpi.”
lautanpun tak henti menyapa. Nyiur yang melambai di pantai. Dan dia belum berhenti melangkah. Mencari jawaban dari setiap jejak yang tertinggal. malam kan tetap temani bintang dan penghuni surga. hingga fajar membuka selimut tidurnya.
This post was submitted by ev
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar